| |
FAKTOR-FAKTOR PENGUAT KESABARAN
1. MENGETAHUI WATAK KEHIDUPAN DUNIA
Dunia bukanlah surga tempat kenikmatan, juga bukan
tempat keabadian. Ia hanya cobaan dan pembebanan
(taklif). Manusia yang diciptakan didalamnya untuk
diuji guna mempersiapkan kehidupan abadi di akhirat.
Siapa yang telah mengetahui watak dunia seperti itu
maka ia tidak akan dikejutkan oleh "malapetaka".
Tetapi orang2 yang memandang kehidupan dunia sebagai
jalan penuh ditaburi bunga dan aroma, maka apabila ia
tergelincir sedikit saja akan dirasakannya sangat
berat dan sulit karena sebelumnya tidak pernah
membayangkannya.
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada
dalam susah payah" Al Balad:4
"Jika
kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka
sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar)
mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan
kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia
(agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah
membezkan orang-orang yang beriman (dengan
orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya
(gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai
orang-orang yang zalim,"
Ali Imron:140
Selain itu diisyaratkan bahwa watak kehidupan dunia
itu tidak konstan dalam satu keadaan, hari ini membawa
kebaikan dan esok hari membawa kesengsaraan.
Ali Bin Abi Thalib ra ditanya tentang dunia, kemudian
menjawab" Apa yang dapat aku katakan tentang dunia
yang awalnya adalah tangis, tengahnya kesengsaraan,
dan ujungnya adalah ketidakabadian?"
2. MENGETAHUI MANUSIA ITU SENDIRI
Artinya, manusia hendaknya mengetahui bahwa ia adalah
milik Allah sepenuhnya. Allah lah yang menciptakannya
dari tiada, kemudian memberikannya kehidupan,
perasaan, gerak, pendengaran, pengelihatan, dan hati,
dan akhirnya melimpahkan kepadanya nikmat zhahir dan
batin.
"Dan
apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari
Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh
kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta
pertolongan."
An Nahl 53
Labib, seorang penyair klasik berkata, "Harta dan
keluarga hanya titipan, pada suatu hari titipan itu
pasti akan diminta kembali".
Oleh karena itu Al Qur'an mengajarkan kepada orang2
sabar yang telah dicatat sebagai kaum yang mendapatkan
busyro (kabar gembira), shalawat (do'a, hidayah dan
rahmah) agar apabila mendapat musibah mengucap " Inna
lillahi wa inna ilaihi roji'un" kita berasal dari
Allah, dan kepadaNya lah kita kembali.
3. YAKIN AKAN BALASAN BAIK DI SISI ALLAH
Tiada terdapat di dalam Al-Qur'an suatu yang pahalanya
lebih besar selain dari pada sabar.
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan
mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga,
yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal
di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi
orang-orang yang beramal,"
" (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada
Tuhannya" Al Ankabut 58-59
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman.
bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat
baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah
itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa
batas." Az Zumar 10
Dikisahkan seorang wanita sholihah pada waktu
penaklukan kota Al-Mushily
ditemukan dalam keadaan terputus ujung jarinya dan ini
sangat menyakitkan tentunya, Tetapi dia memuji Allah
dan tersenyum. "Sesungguhnya kenikmatan pahalanya
telah menghilangkan kepedihannya dari hatiku".
Sesungguhnya keyakinan seseorang akan baiknya balasan
dan besarnya pahala di sisi Allah, atas bala yang
menimpa dapat meringankan kepedihannya pada jiwa dan
mengurangi pengaruhnya pada hati.
Do'a Nabi Saw
" Ya Allah, bagikan kepada kami rasa takut
kepadaMu
yang dapat menghalangi kami untuk berbuat maksiat
kepadaMu, yang dapat mengantarkan kami ke surgaMu dan
keyakinan yang dapat meringankan musibah dunia yang
menimpa kami."
4. YAKIN AKAN ADANYA JALAN KELUAR
Diantara faktor yang menguatkan kesabaran ialah
keyakinan bahwa pertolongan Allah itu amat dekat.
PenyelesaianNya tidak diragukan lagi, pasti akan tiba.
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti datang
kemudahan. Dan bahwa pertolongan yang dijanjikanNya
kepada orang2 beriman, serta pergantian atau balasan
yang dijanjikanNya kepada orang2 yang diuji, pasti
akan terwujudkan.
Keyakinan ini akan dapat menghalau kecemasan dan
keputusasaan dari hati dan menyinari dada dengan
harapan kemenangan dan kepastian yang lebih baik di
hari esok.
Berulangkali di dalam AlQur'an perintah sabar disertai
dengan penegasan bahwa janji Allah adalah benar, yakni
tidak akan diingkari sama sekali, sebab yang
mengingkari janjinya mungkin karena lemah atas dusta:
Maha Suci Allah dari hal yang demikian itu
"..... Allah telah berjanji dengan
sebenar-benarnya.
Allah tidak akan memungkiri janji-Nya" Az-Zumar 20
"Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah
adalah
benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak
meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu
menggelisahkan kamu." Ar Rum 60
"Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji
Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan
bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang
dan pagi." Al Mu'min 55
Janji Allah yang benar kepada orang2 yang sabar
terwujud dalam beberapa hal:
a. Memberikan kelapangan sesudah kesempitan,
kesejahteraan ssudah cobaan, kebahagiaan sesudah
kesusahan, kemudahan setelah kesulitan.
"........Allah kelak akan memberikan kelapangan
sesudah kesempitan." Ath Thalaq 7
Bahkan dalam ayat lain
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan"
"sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" Alam Nasyrah 5-6
di sini Allah tidak menjadikan kemudahan sesudah
kesulitan tetapi disertakan. Hal ini mengingat 2 hal
pertama, kedekatan terwujudnya kemudahan setelah
kesulitan sehingga seakan-akan bersamanya dan lekat
padanya.
kedua, kesulitan itu benar2 beserta kemudahan, tidak
perlu diragukan lagi, mungkin secara zhahir dan dapat
dirasakan atau secara tersembunyi dan terkandung
(lathf/tersirat)
"....Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap
apa
yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana" Yusuf 100
b. Memberikan kesudahan yang baik bagi orang yang
Sabar dan Taqwa, kendatipun
jalan mereka penuh dengan duri dan darah. Sebab segala
sesuatu itu ditentukan oleh kesudahan dan
penutupannya.
Sehubungan dengan ini Al Qur'an mengisahkan melalui
lisan Musa as yang menyampaikan nasehat kepada kaumnya
setelah menghadapi ancaman pembunuhan,penyiksaan dan
penindasan dari Fir'aun.
"Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah
pertolongan
kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini)
kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang
dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang
baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa."" Al A'raf
128
Dan Kisah2 para Rasul bersama kaum mereka yang banyak
dikisahkan AlQur'an menguatkan dan menegaskan
ketetapan Ilahi ini: "Kesudahan yang baik adalah bagi
orang yang sabar dan taqwa.
Kendatipun ada pergiliran hari dan keadaan namun
kesudahan yang baik tetap berada dalam pihak kaum
beriman. Kadang2 cobaan pun semakin berat, fitnah
semakin bertambah banyak, kesulitan2 berdatangan bagai
gelombang lautan, mencekik leher kaum Muslimin,
menyesatkan pandangan, menyayat hati sehingga orang2
menyangka kepada Allah berbagai prasangka2 dan kaum
Muslimin diguncang oleh guncangan berat. Pada saat2
inilah pertolongan Allah itu akan lebih dekat daripada
Sunatullah pada alam maya; ketika kita melihat petir
dan guntur yang menyambar, pertanda bagi turunya hujan
dan rahmat.
"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai
harapan
lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini
bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para
rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan
orang-orang yang Kami kehendaki.
Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada
orang-orang yang berdosa." Yusuf 110
Sebagian orang beranggapan, ketika melihat orang2 yang
zhalim dan para thagut itu berada dalam kesejahteraan
dan kemegahannya, bahwa Allah melupakan mereka. Maha
Suci Allah, Allah tidak melupakan mereka, tetapi
menangguhkannya.
Dalam sebuah Hadits Sahih dikatakan
"Sesungguhnya Allah menangguhkan orang2 yang
zhalim
sehingga apabila Dia mengambilnya tidak meloloskannya"
Kemudian Rasullulah saw membaca
"Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab
penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim.
Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi
keras" Al Hud 102
c. Memberikan ganti dari apa saja yang luput dan
hilang, sebab Allah tidak akan menghapus pahala orang2
yang bekerja dengan baik. Allah telah berjanji secara
pasti bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala orang
yang berbuat baik. Ini mencakup dunia dan akhirat.
Di dunia, Allah mengganti apa yang tidak mereka
dapatkan itu dengan suatu yang lebih baik dan
memberikan posisi setelah mereka kalah.
Di akhirat, Allah memberikan pahala tanpa batas.
". Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah
sesudah
mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat
yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya
pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka
mengetahui,"
"(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan
saja mereka bertawakkal"
An Nahl 41-42
"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
kebaikan."
Al Hud 115
"......dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang berbuat baik"
"Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik,
bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa."
Yusuf 56-57
Pada ayat 56 yang dimaksud ialah pahala dunia dan
balasan sekarang. Adapun pahala akhirat dan balasannya
dinyatakan dalam ayat 57
Dari Ummu Salamah ra.
" Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda
"Tiada
seoranga hamba ditimpa musibah kemudian mengucap Inna
lillahi wainna ilaihi roji'un, Ya Allah berilah pahala
dalam musibahku ini dan gantilah dengan yang lebih
baik dari padanya", kecuali Allah memberi pahala
musibahnya ini dengan lebih baik darinya." Ummu
Salamah berkata. : Ketika Abu Salamah meninggal, aku
mengucap seperti apa yang diperintahkan Rasulullah
tsb, maka Allah menggantiku dengan suatu yang lebih
baik dari padanya : Rasulullah saw."
5 MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA ALLAH
Diantara faktor penguat kesabaran ialah meminta
pertolongan kepada Allah dan berlindung kepada
perlindunganNya sehingga akan merasakan kesertaanNya
dan bahwa ia berada dalam pembelaan dan penjagaanNya
"....dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar."
Al Anfal 46
"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan
Tuhanmu,
maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami,
.."
At Thur 48
"...Mohonlah pertolongan kepada Allah dan
bersabarlah.."
Al A'raf 128
Barangkali perlunya orang2 sabar dalam permintaan
pertolongan kepada Allah dan tawakkal kepadaNya,
merupakan rahasia disertakannya kesabaran dan tawakkal
kepada Allah di dalam banyak ayat yang sebagiannya
telah disebutkan terdahulu, spt firman Allah:
"(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada
Tuhan
saja mereka bertawakkal"
An Nahl 42
"...dan kami sungguh-sungguh akan bersabar
terhadap
gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan
hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal
itu, berserah diri".
Ibrahim 12
6. MENELADANI ORANG YANG SABAR DAN TEGUH HATI
Merenungkan sejarah hidup orang2 yang sabar dari
berbagai bentuk cobaan yang mereka hadapi, khususnya
para pengemban da'wah risalah dari nabi2 dan rasul2
Allah yang terpilih yang kehidupan dan jihad mereka
dijadikan Allah sbg pelajaran bagi orang2 yang
sesudahnya agar diambil sebagai qudwah (teladan).
Dengan meneladani mereka maka musibah yang menimpa,
baik kesengsaraan kehidupan maupun gangguan dari orang
lain akan terasa ringan.
"Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan
kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami
teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang
kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan
bagi orang-orang yang beriman."
Al Hud 120
Ketika Kabbab bin Al Arit mengadukan kepada Rasulullah
saw akan kepedihan yang dihadapinya akibat gangguan
dan fitnah dalam agamanya bersama para saudaranya yang
lemah, dan berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah
Engkau
memintakan pertolongan kepada kami? tidakkah Engkau
memohonkan do'a untuk kami?"
Maka dijawab oleh Rasulullah saw,"
Sungguh orang2
sebelum kamu ada yang diambil kemudian dimasukkan ke
dalam tanah galian kemudian didatangkan gergaji, maka
diletakkan gergaji itu di atas kepalanya yang
membelahnya menjadi dua, kemudian daging dan tulangnya
disikat dengan sikat besi; tetapi itu semua tidak
menghalangi agamanya. Demi Allah ssungguhnya Allah
akan memberkati urusan ini, sehingga orang yang
berjalan dari San'a ke Hadramaut tidak akan merasa
takut kecuali kepada Allah dan khawatir terhadap
serigala yang akan menyergap kambingnya, tetapi kamu
tergesa-gesa"
(HR Bukhari dan lainnya)
7. BERIMAN KEPADA QADAR ALLAH DAN SUNNAH-SUNNAHNYA
bahwa Qadar Allah itu tak diragukan lagi pasti
terlaksana dan bahwa apa yang menimpanya itu bukan
untuk menyalahkannya sebaiknya apa yang luput darinya
bukan untuk menimpanya.
Sesungguhnya berserah diri kepada taqdir dalam hal
seperti ini merupakan sikap yang disyari'atkan dan
terpuji. Sebab, ini berarti menyerah kepada taqdir
menyangkut sesuatu yang manusia tidak memiliki kuasa
dan ikhtiar didalamnya, seperti bencana alam dlsb. Dan
ini mempunyai pengaruh yang sangat dalam pada jiwa
manusia, sebab akan dapat meringankan rasa putus asa
karena sesuatu yang luput dan rasa sedih karena
sesuatu yang menimpa.
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan
(tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah
tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah
mudah bagi Allah."
"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan
supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa
yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai
setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,"
Al Hadid 22-23
[1459]. Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang melampaui
batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah.
Apabila ketetapan (taqdir) Allah itu pasti terlaksana,
baik manusia rela maupun tidak; bersabar maupun tidak,
maka seseorang yang berakal seharusnya bersabar dan
rela agar tetap mendapatkan pahalanya. Sebab jika
tidak maka pada akhirnya dia akan terpaksa bersabar
yang (dalam kondosi ini) sudah tidak memiliki nilai
akhlak dan agama.
"Sabar itu hanyalah pada reaksi yang pertama"
(HR.
Bukhari)
Amirul Mu'minin Ali ra pernah melakukan ta'ziyah
kepada seorang yang kematian anaknya,kemudian ia
berkata, "Wahai Fulan, jika engkau bersabar maka
ketetapan itu berlaku padamu dan pahala bagimu, tetapi
jika engkau tidak bersabar maka ketetapan itu tetap
berlaku atasmu dan bagimu dosa." "karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan
karena
rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu
tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya
sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan
(berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada
orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu
tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan
sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan
bagi sunnah Allah itu." Al Fathir 43
Menyerah pada keadaan adalah tuntutan akal dan agama,
sebab penyesalan, rintihan, dan ratapan itu tidak akan
mampu mengubah kenyataan dan sunnatullah tersebut,
bahkan akan menambah kepedihan dan kepiluan hati
belaka.
Al Qur'an mengisyaratkan di dalam khitabnya kepada
Rasulullah saw ketika Beliau merasa tersiksa oleh kaum
Quraisy dan pendustaan kaum musyrikin kepadanya.
"Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang
mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu
bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan
mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim
itu mengingkari ayat-ayat Allah."
"Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul
sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap
pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap
mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka.
Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat
(janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang
kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu."
"Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat
berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di
bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat
mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah).
Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan
mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah
sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil"
Al An'am 33-35
"Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah
sekali-kali
tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat,
maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit,
kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah
ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan
apa yang menyakitkan hatinya" Al Hajj 15
8. MENJAUHI PENYAKIT YANG MERUSAK KESABARAN
Manusia secara umum, khususnya kaum Mu'minin dan lebih
khusus lagi para pengemban da'wah, apabila ingin
selalu di garis kesabaran, maka hendaknya menghindari
berbagai "penyakit" yang akan menghalangi
perjalanannya. Di antara "penyakit" itu, sebagaimana
diisyaratkan dalam Al Qur'an adalah :
a. Isti'jal (ketergesaan)
Jiwa ini memang selalu cenderung kepada ketergesaan
bahkan ia merupakan salah satu tabi'at manusia, shg Al
Qur'an menjadikan seakan-akan sebagai bahan baku
penciptaan manusia,
"Manusia telah dijadikan (bertabiat)
tergesa-gesa....." Al Anbiya 37
Setiap buah memiliki batas waktu matang, ketergesaan
seseorang tidak akan dapat mematangkannya sebelum
batas waktunya. Sebab, ia tunduk kepada "hukum alam"
yang mengaturnya. Tak seorang pun dapat memaksanya.
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang
mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah
bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab)
bagi mereka..." Al Ahqaf 35
"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu
disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan
menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi
Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu" Al Hajj 47
"Dan mereka meminta kepadamu supaya segera
diturunkan
azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah
ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada
mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada
mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak
menyadarinya" Al Ankabut 53
b. Al Gadhdhab (marah)
Seorang Da'i ketika melihat keberpalingan dari orang2
yang dida'wahinya, mungkin akan bangkit kemarahannya.
Padahal seorang da'i berkewajiban bersabar terhadap
orang yang dida'wahinya.
"Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap
ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang
yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang
ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)."
"Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari
Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus
dalam keadaan tercela."
"Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk
orang-orang yang saleh." Al Qalam 48-50
Orang dalam perut ikan tsb adalah Yunus as, dalam
surat Al Anbiya juga disebutkan "Dzan-nun". Dikatakan
demikian karena ia pernah dimakan ikan, kemudian
dikeluarkan kembali.
"Dan (ingatlah kisah) Dzan Nun (Yunus), ketika ia
pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa
Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka
ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa
tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang
zalim."
Al Anbiya 87
Yang perlu digarisbawahi di sini bahwa Allah
memperingatkan penutup para nabiNya, Muhammad saw.
agar jangan sampai memperturutkan dorongan kemarahan
yang pernah mengakibatkan Yusun as harus menghadapi
kenyataan dan cobaan yang telah dikisahkanNya tsb.
Sebaliknya, is harus bersabar terhadap ketetapan
Allah, tetap melakukan tugas da'wahnya, menanggung
beban risalahnya, dan tidak memperturutkan dorongan
emosioalnya. ia harus menanti keputusan pelindungnya
dan menanti pada akhirnya pertolongan Allah.
c. Sangat bersedih hati dan sempit dada karena rencana
jahat yang mereka lalukan
"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah
kesabaranmu
itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah
kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan
janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka
tipu dayakan" An Nahl 127
Kemudian Allah menegaskan kepadanya bahwa Dia
bersamanya dan melindunginya.
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
bertakwa
dan orang-orang yang berbuat kebaikan" An Nahl 128
"Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan
sebahagian
dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya
dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan:
"Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan
(kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang
malaikat?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi
peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu." Al Hud 12
"Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan
dirimu,
karena mereka tidak beriman." Asy Syu'ara' 3
"Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh
dirimu
karena bersedih hati setelah mereka berpaling,
sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini
(Al-Quran)." Al Kahfi 6
"...maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan
terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka perbuat." Al Fathir 6
"Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat
berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di
bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat
mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah).
Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan
mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah
sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil" Al An'am 35
"Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah
beriman
semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah
kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi
orang-orang yang beriman semuanya ?" Yunus 99
d. Putus asa
Ini merupakan suatu kendala terbesar bagi kesabaran.
Sebab orang yang putus asa itu tidak memiliki
kesabaran sama sekali.
Oleh karena itu Al Qur'an selalu berusaha menghalau
pesimisme dari jiwa Kaum Mu'minin dan menanamkan
harapan dan optimisme di dada mereka.
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah
(pula)
kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang
paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman."
" Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka
sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar)
mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan
kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia
(agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah
membedakan orang-orang yang beriman (dengan
orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya
(gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai
orang-orang yang zalim," Ali Imran 139-140
Ketika Musa as memerintahkan kaumnya agar bersabar
menghadapi kedurjanaan dan kekejaman Fir'aun, is
menyalakan sinar harapan dihadapan mereka dengan
ucapannya
"Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah
pertolongan
kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini)
kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang
dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang
baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.""
"Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh
Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah
kamu datang[556]. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah
membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di
bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana
perbuatanmu[557]." Al A'raf 128-129
[556]. Mereka mengeluh kepada Musa a.s. bahwa nasib
mereka sama saja; baik sebelum kedatangan Musa a.s.
untuk menyeru mereka kepada agama Allah dan melepaskan
mereka dari perbudakan Fir'aun, maupun sesudahnya. Ini
menunjukkan kekerdilan jiwa dan kelemahan daya juang
pada mereka.
[557]. Maksudnya: Allah akan membalas perbuatanmu,
yang baik dibalas dengan yang baik, dan yang buruk
dibalas dengan yang buruk.
Ketika Kabbab bin al Arit mengadukan kepada Nabi saw
ihwal dirinya dan saudara2nya yang mendapat siksaan
yang amat dahsyat dari kaum musyrikin, Nabi saw
mengemukakan nasib yang sama yang dialami kaum
Mu'minin sebelumnya, kemudian Nabi saw mencabut
keputusasaan dari hati Kabbab dan menanamkan optimisme
di hatinya dengan menggambarkan urusan (da'wah) ini
akan diberkati Allah saw. sehingga kaum musafir dari
ujung ke ujung Jazirah tidak akan takut kecualikepada
Allah dan khawatir terhadap serigaa yang akan memangsa
kambingnya.
Hal ini karena harapan dan optimisme merupakan
dukungan terbesar bagi kesabaran dalam menghadapi
panjang dan susahnya perjalanan, dan bahwa putus asa
"Dan bersegerahlah kamu kepada
ampunan dari Tuhanmu
dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk
orang-orang yang bertkawa.(yaitu) orang-orang yang
menafkahkan(hartanya), baik di waktu
lapang mahupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema'afkan(kesalahan) orang.
Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebajikan.
Ali 'Imran 133-134 
Kad Kredit |
Kisah Wahyu Terakhir | Solat | Hudud |
Saat Kematian | Sekular | Menu
Cadangan dan teguran dipersilakan kealamat
zubir@pc.jaring.my
|