FAKTOR-FAKTOR PENGUAT KESABARAN

1. MENGETAHUI WATAK KEHIDUPAN DUNIA

Dunia bukanlah surga tempat kenikmatan, juga bukan tempat keabadian. Ia hanya cobaan dan pembebanan (taklif). Manusia yang diciptakan didalamnya untuk diuji guna mempersiapkan kehidupan abadi di akhirat. Siapa yang telah mengetahui watak dunia seperti itu maka ia tidak akan dikejutkan oleh "malapetaka". Tetapi orang2 yang memandang kehidupan dunia sebagai jalan penuh ditaburi bunga dan aroma, maka apabila ia tergelincir sedikit saja akan dirasakannya sangat berat dan sulit karena sebelumnya tidak pernah membayangkannya.

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah" Al Balad:4

"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membezkan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim," Ali Imron:140

Selain itu diisyaratkan bahwa watak kehidupan dunia itu tidak konstan dalam satu keadaan, hari ini membawa kebaikan dan esok hari membawa kesengsaraan.

Ali Bin Abi Thalib ra ditanya tentang dunia, kemudian menjawab" Apa yang dapat aku katakan tentang dunia yang awalnya adalah tangis, tengahnya kesengsaraan, dan ujungnya adalah ketidakabadian?"

2. MENGETAHUI MANUSIA ITU SENDIRI

Artinya, manusia hendaknya mengetahui bahwa ia adalah milik Allah sepenuhnya. Allah lah yang menciptakannya dari tiada, kemudian memberikannya kehidupan, perasaan, gerak, pendengaran, pengelihatan, dan hati, dan akhirnya melimpahkan kepadanya nikmat zhahir dan batin.

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan." An Nahl 53

Labib, seorang penyair klasik berkata, "Harta dan keluarga hanya titipan, pada suatu hari titipan itu pasti akan diminta kembali".

Oleh karena itu Al Qur'an mengajarkan kepada orang2 sabar yang telah dicatat sebagai kaum yang mendapatkan busyro (kabar gembira), shalawat (do'a, hidayah dan rahmah) agar apabila mendapat musibah mengucap " Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" kita berasal dari Allah, dan kepadaNya lah kita kembali.

3. YAKIN AKAN BALASAN BAIK DI SISI ALLAH

Tiada terdapat di dalam Al-Qur'an suatu yang pahalanya lebih besar selain dari pada sabar.

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal," " (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya" Al Ankabut 58-59

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." Az Zumar 10

Dikisahkan seorang wanita sholihah pada waktu penaklukan kota Al-Mushily  ditemukan dalam keadaan terputus ujung jarinya dan ini sangat menyakitkan tentunya, Tetapi dia memuji Allah dan tersenyum. "Sesungguhnya kenikmatan pahalanya telah menghilangkan kepedihannya dari hatiku".

Sesungguhnya keyakinan seseorang akan baiknya balasan dan besarnya pahala di sisi Allah, atas bala yang menimpa dapat meringankan kepedihannya pada jiwa dan mengurangi pengaruhnya pada hati.

Do'a Nabi Saw
" Ya Allah, bagikan kepada kami rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami untuk berbuat maksiat kepadaMu, yang dapat mengantarkan kami ke surgaMu dan keyakinan yang dapat meringankan musibah dunia yang menimpa kami."

4. YAKIN AKAN ADANYA JALAN KELUAR

Diantara faktor yang menguatkan kesabaran ialah keyakinan bahwa pertolongan Allah itu amat dekat. PenyelesaianNya tidak diragukan lagi, pasti akan tiba.

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti datang kemudahan. Dan bahwa pertolongan yang dijanjikanNya kepada orang2 beriman, serta pergantian atau balasan yang dijanjikanNya kepada orang2 yang diuji, pasti akan terwujudkan.

Keyakinan ini akan dapat menghalau kecemasan dan keputusasaan dari hati dan menyinari dada dengan harapan kemenangan dan kepastian yang lebih baik di hari esok.

Berulangkali di dalam AlQur'an perintah sabar disertai dengan penegasan bahwa janji Allah adalah benar, yakni tidak akan diingkari sama sekali, sebab yang mengingkari janjinya mungkin karena lemah atas dusta: Maha Suci Allah dari hal yang demikian itu

"..... Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya" Az-Zumar 20

"Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu." Ar Rum 60

"Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi." Al Mu'min 55

Janji Allah yang benar kepada orang2 yang sabar terwujud dalam beberapa hal:

a. Memberikan kelapangan sesudah kesempitan, kesejahteraan ssudah cobaan, kebahagiaan sesudah kesusahan, kemudahan setelah kesulitan.

"........Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." Ath Thalaq 7

Bahkan dalam ayat lain
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan"  "sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" Alam Nasyrah 5-6

di sini Allah tidak menjadikan kemudahan sesudah kesulitan tetapi disertakan. Hal ini mengingat 2 hal pertama, kedekatan terwujudnya kemudahan setelah kesulitan sehingga seakan-akan bersamanya dan lekat padanya. kedua, kesulitan itu benar2 beserta kemudahan, tidak perlu diragukan lagi, mungkin secara zhahir dan dapat dirasakan atau secara tersembunyi dan terkandung (lathf/tersirat)

"....Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana"  Yusuf 100

b. Memberikan kesudahan yang baik bagi orang yang Sabar dan Taqwa, kendatipun jalan mereka penuh dengan duri dan darah. Sebab segala sesuatu itu ditentukan oleh kesudahan dan penutupannya. Sehubungan dengan ini Al Qur'an mengisahkan melalui lisan Musa as yang menyampaikan nasehat kepada kaumnya setelah menghadapi ancaman pembunuhan,penyiksaan dan penindasan dari Fir'aun.

"Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa."" Al A'raf 128

Dan Kisah2 para Rasul bersama kaum mereka yang banyak dikisahkan AlQur'an menguatkan dan menegaskan ketetapan Ilahi ini: "Kesudahan yang baik adalah bagi orang yang sabar dan taqwa.

Kendatipun ada pergiliran hari dan keadaan namun kesudahan yang baik tetap berada dalam pihak kaum beriman. Kadang2 cobaan pun semakin berat, fitnah semakin bertambah banyak, kesulitan2 berdatangan bagai gelombang lautan, mencekik leher kaum Muslimin, menyesatkan pandangan, menyayat hati sehingga orang2 menyangka kepada Allah berbagai prasangka2 dan kaum Muslimin diguncang oleh guncangan berat. Pada saat2 inilah pertolongan Allah itu akan lebih dekat daripada Sunatullah pada alam maya; ketika kita melihat petir dan guntur yang menyambar, pertanda bagi turunya hujan dan rahmat.

"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa." Yusuf 110

Sebagian orang beranggapan, ketika melihat orang2 yang zhalim dan para thagut itu berada dalam kesejahteraan dan kemegahannya, bahwa Allah melupakan mereka. Maha Suci Allah, Allah tidak melupakan mereka, tetapi menangguhkannya. Dalam sebuah Hadits Sahih dikatakan
"Sesungguhnya Allah menangguhkan orang2 yang zhalim sehingga apabila Dia mengambilnya tidak meloloskannya"

Kemudian Rasullulah saw membaca
"Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras" Al Hud 102

c. Memberikan ganti dari apa saja yang luput dan hilang, sebab Allah tidak akan menghapus pahala orang2 yang bekerja dengan baik. Allah telah berjanji secara pasti bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Ini mencakup dunia dan akhirat.

Di dunia, Allah mengganti apa yang tidak mereka dapatkan itu dengan suatu yang lebih baik dan memberikan posisi setelah mereka kalah. Di akhirat, Allah memberikan pahala tanpa batas.

". Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui," "(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal" An Nahl 41-42

"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." Al Hud 115

"......dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" "Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa." Yusuf 56-57

Pada ayat 56 yang dimaksud ialah pahala dunia dan balasan sekarang. Adapun pahala akhirat dan balasannya dinyatakan dalam ayat 57

Dari Ummu Salamah ra.
" Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda "Tiada seoranga hamba ditimpa musibah kemudian mengucap Inna lillahi wainna ilaihi roji'un, Ya Allah berilah pahala dalam musibahku ini dan gantilah dengan yang lebih baik dari padanya", kecuali Allah memberi pahala musibahnya ini dengan lebih baik darinya." Ummu Salamah berkata. : Ketika Abu Salamah meninggal, aku mengucap seperti apa yang diperintahkan Rasulullah tsb, maka Allah menggantiku dengan suatu yang lebih baik dari padanya : Rasulullah saw."

5 MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA ALLAH

Diantara faktor penguat kesabaran ialah meminta pertolongan kepada Allah dan berlindung kepada perlindunganNya sehingga akan merasakan kesertaanNya dan bahwa ia berada dalam pembelaan dan penjagaanNya

"....dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Al Anfal 46

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami,
.." 
At Thur 48

"...Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah.." Al A'raf 128

Barangkali perlunya orang2 sabar dalam permintaan pertolongan kepada Allah dan tawakkal kepadaNya, merupakan rahasia disertakannya kesabaran dan tawakkal kepada Allah di dalam banyak ayat yang sebagiannya telah disebutkan terdahulu, spt firman Allah:

"(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal" An Nahl 42

"...dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri".  Ibrahim 12

6. MENELADANI ORANG YANG SABAR DAN TEGUH HATI

Merenungkan sejarah hidup orang2 yang sabar dari berbagai bentuk cobaan yang mereka hadapi, khususnya para pengemban da'wah risalah dari nabi2 dan rasul2 Allah yang terpilih yang kehidupan dan jihad mereka dijadikan Allah sbg pelajaran bagi orang2 yang sesudahnya agar diambil sebagai qudwah (teladan). Dengan meneladani mereka maka musibah yang menimpa, baik kesengsaraan kehidupan maupun gangguan dari orang lain akan terasa ringan.

"Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." Al Hud 120

Ketika Kabbab bin Al Arit mengadukan kepada Rasulullah saw akan kepedihan yang dihadapinya akibat gangguan dan fitnah dalam agamanya bersama para saudaranya yang lemah, dan berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah Engkau memintakan pertolongan kepada kami? tidakkah Engkau memohonkan do'a untuk kami?" Maka dijawab oleh Rasulullah saw," Sungguh orang2 sebelum kamu ada yang diambil kemudian dimasukkan ke dalam tanah galian kemudian didatangkan gergaji, maka diletakkan gergaji itu di atas kepalanya yang membelahnya menjadi dua, kemudian daging dan tulangnya disikat dengan sikat besi; tetapi itu semua tidak menghalangi agamanya. Demi Allah ssungguhnya Allah akan memberkati urusan ini, sehingga orang yang berjalan dari San'a ke Hadramaut tidak akan merasa takut kecuali kepada Allah dan khawatir terhadap serigala yang akan menyergap kambingnya, tetapi kamu tergesa-gesa" (HR Bukhari dan lainnya)

7. BERIMAN KEPADA QADAR ALLAH DAN SUNNAH-SUNNAHNYA

bahwa Qadar Allah itu tak diragukan lagi pasti terlaksana dan bahwa apa yang menimpanya itu bukan untuk menyalahkannya sebaiknya apa yang luput darinya bukan untuk menimpanya. Sesungguhnya berserah diri kepada taqdir dalam hal seperti ini merupakan sikap yang disyari'atkan dan terpuji. Sebab, ini berarti menyerah kepada taqdir menyangkut sesuatu yang manusia tidak memiliki kuasa dan ikhtiar didalamnya, seperti bencana alam dlsb. Dan ini mempunyai pengaruh yang sangat dalam pada jiwa manusia, sebab akan dapat meringankan rasa putus asa karena sesuatu yang luput dan rasa sedih karena sesuatu yang menimpa.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri," Al Hadid 22-23

 [1459]. Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah. Apabila ketetapan (taqdir) Allah itu pasti terlaksana, baik manusia rela maupun tidak; bersabar maupun tidak, maka seseorang yang berakal seharusnya bersabar dan rela agar tetap mendapatkan pahalanya. Sebab jika tidak maka pada akhirnya dia akan terpaksa bersabar yang (dalam kondosi ini) sudah tidak memiliki nilai akhlak dan agama.

"Sabar itu hanyalah pada reaksi yang pertama" (HR. Bukhari)

Amirul Mu'minin Ali ra pernah melakukan ta'ziyah kepada seorang yang kematian anaknya,kemudian ia berkata, "Wahai Fulan, jika engkau bersabar maka ketetapan itu berlaku padamu dan pahala bagimu, tetapi jika engkau tidak bersabar maka ketetapan itu tetap berlaku atasmu dan bagimu dosa."  "karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu." Al Fathir 43

Menyerah pada keadaan adalah tuntutan akal dan agama, sebab penyesalan, rintihan, dan ratapan itu tidak akan mampu mengubah kenyataan dan sunnatullah tersebut, bahkan akan menambah kepedihan dan kepiluan hati belaka.
Al Qur'an mengisyaratkan di dalam khitabnya kepada Rasulullah saw ketika Beliau merasa tersiksa oleh kaum Quraisy dan pendustaan kaum musyrikin kepadanya.

"Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." "Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu." "Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil" Al An'am 33-35

"Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya" Al Hajj 15


8. MENJAUHI PENYAKIT YANG MERUSAK KESABARAN

Manusia secara umum, khususnya kaum Mu'minin dan lebih khusus lagi para pengemban da'wah, apabila ingin selalu di  garis kesabaran, maka hendaknya menghindari berbagai "penyakit" yang akan menghalangi perjalanannya. Di antara "penyakit" itu, sebagaimana diisyaratkan dalam Al Qur'an adalah :

a. Isti'jal (ketergesaan)

Jiwa ini memang selalu cenderung kepada ketergesaan bahkan ia merupakan salah satu tabi'at manusia, shg Al Qur'an menjadikan seakan-akan sebagai bahan baku penciptaan manusia,
"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa....." Al Anbiya 37

Setiap buah memiliki batas waktu matang, ketergesaan seseorang tidak akan dapat mematangkannya sebelum batas waktunya. Sebab, ia tunduk kepada "hukum alam" yang mengaturnya. Tak seorang pun dapat memaksanya.

"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka..." Al Ahqaf 35

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu" Al Hajj 47

"Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya" Al Ankabut 53

b. Al Gadhdhab (marah)

Seorang Da'i ketika melihat keberpalingan dari orang2 yang dida'wahinya, mungkin akan bangkit kemarahannya. Padahal seorang da'i berkewajiban bersabar terhadap orang yang dida'wahinya.

"Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela." "Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh." Al Qalam 48-50

Orang dalam perut ikan tsb adalah Yunus as, dalam surat Al Anbiya juga disebutkan "Dzan-nun". Dikatakan demikian karena ia pernah dimakan ikan, kemudian dikeluarkan kembali.

"Dan (ingatlah kisah) Dzan Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."  Al Anbiya 87

Yang perlu digarisbawahi di sini bahwa Allah memperingatkan penutup para nabiNya, Muhammad saw. agar jangan sampai memperturutkan dorongan kemarahan yang pernah mengakibatkan Yusun as harus menghadapi kenyataan dan cobaan yang telah dikisahkanNya tsb.

Sebaliknya, is harus bersabar terhadap ketetapan Allah, tetap melakukan tugas da'wahnya, menanggung beban risalahnya, dan tidak memperturutkan dorongan emosioalnya. ia harus menanti keputusan pelindungnya dan menanti pada akhirnya pertolongan Allah.

c. Sangat bersedih hati dan sempit dada karena rencana jahat yang mereka lalukan

"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan" An Nahl 127

Kemudian Allah menegaskan kepadanya bahwa Dia bersamanya dan melindunginya.

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan" An Nahl 128

"Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu." Al Hud 12

"Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman." Asy Syu'ara' 3

"Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran)." Al Kahfi 6

"...maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." Al Fathir 6

"Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil" Al An'am 35

"Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?" Yunus 99

d. Putus asa

Ini merupakan suatu kendala terbesar bagi kesabaran. Sebab orang yang putus asa itu tidak memiliki kesabaran sama sekali. Oleh karena itu Al Qur'an selalu berusaha menghalau pesimisme dari jiwa Kaum Mu'minin dan menanamkan harapan dan optimisme di dada mereka.

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." " Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim," Ali Imran 139-140

Ketika Musa as memerintahkan kaumnya agar bersabar menghadapi kedurjanaan dan kekejaman Fir'aun, is menyalakan sinar harapan dihadapan mereka dengan ucapannya
"Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.""  "Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang[556]. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu[557]." Al A'raf 128-129
 
[556]. Mereka mengeluh kepada Musa a.s. bahwa nasib mereka sama saja; baik sebelum kedatangan Musa a.s. untuk menyeru mereka kepada agama Allah dan melepaskan mereka dari perbudakan Fir'aun, maupun sesudahnya. Ini menunjukkan kekerdilan jiwa dan kelemahan daya juang pada mereka.

[557]. Maksudnya: Allah akan membalas perbuatanmu, yang baik dibalas dengan yang baik, dan yang buruk dibalas dengan yang buruk.

Ketika Kabbab bin al Arit mengadukan kepada Nabi saw ihwal dirinya dan saudara2nya yang mendapat siksaan yang amat dahsyat dari kaum musyrikin, Nabi saw mengemukakan nasib yang sama yang dialami kaum Mu'minin sebelumnya, kemudian Nabi saw mencabut keputusasaan dari hati Kabbab dan menanamkan optimisme di hatinya dengan menggambarkan urusan (da'wah) ini akan diberkati Allah saw. sehingga kaum musafir dari ujung ke ujung Jazirah tidak akan takut kecualikepada Allah dan khawatir terhadap serigaa yang akan memangsa kambingnya.

Hal ini karena harapan dan optimisme merupakan dukungan terbesar bagi kesabaran dalam menghadapi panjang dan susahnya perjalanan, dan bahwa putus asa

"Dan bersegerahlah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertkawa.(yaitu) orang-orang yang menafkahkan(hartanya), baik di waktu
lapang mahupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan(kesalahan) orang.
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Ali 'Imran 133-134

 

Kad Kredit | Kisah Wahyu Terakhir | Solat | Hudud | Saat Kematian | Sekular | Menu

Cadangan dan teguran dipersilakan kealamat zubir@pc.jaring.my